Recent Posts

Rabu, 27 Mei 2015

TIDAK PERLU PANIK

TIDAK PERLU PANIK Bacaan: 1Petrus 4:12-19 NATS: Saudara-saudara yang terkasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu (1Petrus 4:12) Saat melayani pendalaman Alkitab dalam suatu pelayaran di Kepulauan Karibia, saya mendengarkan pengarahan tentang tindakan penyelamatan yang biasa dilakukan di hari pertama. Tindakan pencegahan sangatlah penting untuk berjaga-jaga seandainya tiba-tiba kapal harus dievakuasi. Pengarahan dari awak kapal ditutup dengan penjelasan sederhana tetapi sangat penting. Kombinasi khusus suara terompet udara, yang menandakan latihan, berbeda sekali dengan suara yang akan dibunyikan untuk menandakan situasi darurat yang sebenarnya. Perbedaan itu sangat penting. Latihan tak dirancang untuk mengadakan evakuasi. Jika para penumpang panik saat latihan, maka akan terjadi kekacauan. Apabila kita tidak memahami situasi di sekitar kita, kita mudah guncang oleh kegelisahan hidup. Orang-orang yang hidup di zaman Petrus mengalami hal yang sama. Ia memberi peringatan sederhana: "Janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian" (1Petrus 4:12). Pencobaan dan penderitaan hidup seolah-olah terdengar seperti panggilan untuk melakukan "evakuasi" -- melarikan diri atau menghadapi hidup secara putus asa dan tidak bijak. Namun, lebih bijak jika kita lebih peka mendengar suara Tuhan. Pencobaan itu tidak akan menjadi lebih dari sekadar pengingat bahwa kita harus percaya kepada Allah semata, bukan kepada manusia. Kita dapat memercayai-Nya pada saat-saat seperti itu apabila tanda bahaya dalam hidup kita mulai berbunyi --WEC Kita dapat mengandalkan kasih Sang Juru Selamat Untuk berlindung dari badai kehidupan; Aman dalam rengkuhan lengan-Nya yang kuat Dia menyediakan tempat perlindungan. --Hess TANTANGAN HIDUP TIDAK DIRANCANG UNTUK MENGHANCURKAN KITA TETAPI UNTUK MENDEKATKAN KITA KEPADA ALLAH. ( Mikael Badii )

DEMI ANAK-ANAK GENERASI PENERUS

DEMI ANAK-ANAK Bacaan: Mazmur 68:6; Markus 10:13-16 NATS: Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka (Markus 10:14) Kebanyakan remaja yang baru saja mengunjungi panti asuhan Robin's Nest di dekat Montego Bay, Jamaika, menangis. "Ini tak adil," kata seorang remaja putri setelah kunjungan singkat itu. "Kita punya banyak hal, tetapi mereka tak memiliki apa pun." Selama kunjungan 2 jam itu, sambil membagikan boneka binatang dan bermain dengan anak-anak, seorang remaja putri memeluk seorang anak perempuan yang tak pernah tersenyum dan sedang bersedih. Kami mendapati bahwa ia menjadi korban aniaya orangtuanya sebelum ia ditampung di panti asuhan. Bayangkan jika keadaan anak perempuan kecil ini menimpa jutaan anak, kita pasti akan menjadi mudah terharu. Teman remaja saya ini benar. Ini tidak adil. Penganiayaan, kemiskinan, dan penelantaran telah mengubah hidup jutaan anak menjadi mimpi buruk. Hal ini sungguh menyakitkan hati Allah! Yesus, yang berkata, "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku" (Markus 10:14), pasti akan sedih melihat bagaimana anak-anak ini diperlakukan. Apa yang dapat kita lakukan? Dalam nama Yesus, kita dapat membantu panti asuhan secara finansial. Jika mungkin, kita bisa terjun langsung membantu mereka. Jika kita merasa terpanggil, kita dapat menyediakan rumah bagi anak-anak yang berharga ini. Dan, kita semua bisa berdoa -- memohon agar Allah menolong mereka yang mengalami ketidakadilan dalam hidupnya. Mari kita tunjukkan kasih Allah kepada anak-anak melalui hati dan tangan kita --JDB Menjangkau anak-anak yang sengsara, Menunjukkan kasih dan kepedulian kita, Itulah salah satu cara Allah memakai kita Membangkitkan asa di tengah kemalangan mereka. --Sper TUNJUKKANLAH KASIH YESUS KEPADA SEORANG ANAK HARI INI

TIDAK PERLU PANIK NAST

TIDAK PERLU PANIK Bacaan: 1Petrus 4:12-19 NATS: Saudara-saudara yang terkasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu (1Petrus 4:12) Saat melayani pendalaman Alkitab dalam suatu pelayaran di Kepulauan Karibia, saya mendengarkan pengarahan tentang tindakan penyelamatan yang biasa dilakukan di hari pertama. Tindakan pencegahan sangatlah penting untuk berjaga-jaga seandainya tiba-tiba kapal harus dievakuasi. Pengarahan dari awak kapal ditutup dengan penjelasan sederhana tetapi sangat penting. Kombinasi khusus suara terompet udara, yang menandakan latihan, berbeda sekali dengan suara yang akan dibunyikan untuk menandakan situasi darurat yang sebenarnya. Perbedaan itu sangat penting. Latihan tak dirancang untuk mengadakan evakuasi. Jika para penumpang panik saat latihan, maka akan terjadi kekacauan. Apabila kita tidak memahami situasi di sekitar kita, kita mudah guncang oleh kegelisahan hidup. Orang-orang yang hidup di zaman Petrus mengalami hal yang sama. Ia memberi peringatan sederhana: "Janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian" (1Petrus 4:12). Pencobaan dan penderitaan hidup seolah-olah terdengar seperti panggilan untuk melakukan "evakuasi" -- melarikan diri atau menghadapi hidup secara putus asa dan tidak bijak. Namun, lebih bijak jika kita lebih peka mendengar suara Tuhan. Pencobaan itu tidak akan menjadi lebih dari sekadar pengingat bahwa kita harus percaya kepada Allah semata, bukan kepada manusia. Kita dapat memercayai-Nya pada saat-saat seperti itu apabila tanda bahaya dalam hidup kita mulai berbunyi --WEC Kita dapat mengandalkan kasih Sang Juru Selamat Untuk berlindung dari badai kehidupan; Aman dalam rengkuhan lengan-Nya yang kuat Dia menyediakan tempat perlindungan. --Hess TANTANGAN HIDUP TIDAK DIRANCANG UNTUK MENGHANCURKAN KITA TETAPI UNTUK MENDEKATKAN KITA KEPADA ALLAH

DEMI ANAK-ANAK

DEMI ANAK-ANAK Bacaan: Mazmur 68:6; Markus 10:13-16 NATS: Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka (Markus 10:14) Kebanyakan remaja yang baru saja mengunjungi panti asuhan Robin's Nest di dekat Montego Bay, Jamaika, menangis. "Ini tak adil," kata seorang remaja putri setelah kunjungan singkat itu. "Kita punya banyak hal, tetapi mereka tak memiliki apa pun." Selama kunjungan 2 jam itu, sambil membagikan boneka binatang dan bermain dengan anak-anak, seorang remaja putri memeluk seorang anak perempuan yang tak pernah tersenyum dan sedang bersedih. Kami mendapati bahwa ia menjadi korban aniaya orangtuanya sebelum ia ditampung di panti asuhan. Bayangkan jika keadaan anak perempuan kecil ini menimpa jutaan anak, kita pasti akan menjadi mudah terharu. Teman remaja saya ini benar. Ini tidak adil. Penganiayaan, kemiskinan, dan penelantaran telah mengubah hidup jutaan anak menjadi mimpi buruk. Hal ini sungguh menyakitkan hati Allah! Yesus, yang berkata, "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku" (Markus 10:14), pasti akan sedih melihat bagaimana anak-anak ini diperlakukan. Apa yang dapat kita lakukan? Dalam nama Yesus, kita dapat membantu panti asuhan secara finansial. Jika mungkin, kita bisa terjun langsung membantu mereka. Jika kita merasa terpanggil, kita dapat menyediakan rumah bagi anak-anak yang berharga ini. Dan, kita semua bisa berdoa -- memohon agar Allah menolong mereka yang mengalami ketidakadilan dalam hidupnya. Mari kita tunjukkan kasih Allah kepada anak-anak melalui hati dan tangan kita --JDB Menjangkau anak-anak yang sengsara, Menunjukkan kasih dan kepedulian kita, Itulah salah satu cara Allah memakai kita Membangkitkan asa di tengah kemalangan mereka. --Sper TUNJUKKANLAH KASIH YESUS KEPADA SEORANG ANAK HARI INI.