Recent Posts

Minggu, 24 April 2016

KETIKA BUNDA TERESA BERBICARA

"Jangan tunggu pemimpin, lakukan sendiri seorang demi seorang." Ibu Teresa mengajar kita dengan memberi contoh seperti apa hidup penuh 'pelayanan' yang sesungguhnya.
"Saya pikir dunia sekarang sedang jungkir balik dan sangat menderita karena sedikit kasih di dalam rumah, di dalam kehidupan keluarga, tidak punya cukup waktu untuk anak kita, tidak punya waktu untuk diri sendiri, dan tidak cukup waktu untuk menikmati kebersamaan"
"Kasih berasal dari rumah, cinta hidup dalam keluarga, maka dari itu mengapa banyak terjadi kesedihan dan ketidak-gembiraan dalam dunia saat ini. Semua orang saat ini hidup sangat terburu-buru: Ingin lebih bertambah kaya, ingin lebih berkembang dan seterusnya, sehingga anak-anak hanya punya sedikit waktu dengan orang tuanya, orang tua hanya punya sedikit waktu bagi mereka sendiri, dan akhirnya perdamaian dunia mulai terkikis dari dalam rumah"

"Saya melihat Tuhan dalam diri manusia. Ketika saya membasuh penderita lepra, saya merasa sedang merawat Tuhan sendiri. Bukankah hal itu merupakan pengalaman yang paling menakjubkan?"(wawancara 1974 On Poverty)
"Ketika saya melihat sisa makanan, saya merasa marah. Saya sendiri tidak setuju dengan kemarahan, tapi itu suatu rasa yang tidak dapat saya cegah setelah melihat Ethiopia." (Washington, 1984)
"Kemiskinan yang terburuk adalah kesepian dan merasa tidak dicintai. Penyakit terbesar saat ini bukanlah penyakit lepra ataupun TBC, tetapi perasaan tidak dikehendaki. Ada banyak kelaparan cinta dan apresiasi di dalam dunia dibandingkan kelaparan makanan"
"Kadang kita berpikir bahwa kemiskinan hanya berkaitan dengan kelaparan, tidak punya pakaian dan tidak punya rumah. Tetapi kemiskinan atas rasa tidak dikehendaki, tidak dikasihi dan tidak dipedulikan adalah kemiskinan yang paling besar. Kita harus memulainya dari keluarga sendiri untuk memperbaiki kemiskinan jenis ini."
"Saya belum pernah terlibat dalam situasi peperangan, tetapi saya telah melihat kelaparan dan kematian. Saya bertanya dalam diri saya sendiri: 'Apa yang mereka rasakan ketika mereka melakukan hal itu? Saya tidak mengerti. Mereka semua anak2 Tuhan, mengapa mereka melakukan hal itu? Saya sungguh tidak mengerti!"
"Tolong pilihlah jalan perdamaian. Dalam jangka pendek, mungkin ada pemenang dan ada yang kalah dalam perang ini, dan akhirnya kita semua akan sesali. Tetapi tidak ada yang bisa menghitung rasa kehilangan, penderitaan dan kehilangan nyawa yang disebabkan oleh senjata kalian." (Surat kepada Presiden AS George Bush dan Presiden Irak Saddam Hussein, januari 1991)
"Aborsi adalah pembunuhan dalam bentuk janin . Anak adalah pemberian dari Tuhan. Jika kamu tidak menghendaki, tolong berikan saja kepada saya. Penghancur terbesar perdamaian adalah Aborsi, karena jika seorang ibu tega membunuh darah dagingnya sendiri, apa yang tersisa untuk saya membunuh anda, dan anda membunuh saya? Tidak ada sesuatu apapun! Adalah suatu kemiskinan, menentukan bahwa seorang anak harus mati supaya kamu dapat hidup seperti yang kamu inginkan."
"Suatu hari saya bermimpi: Ketika tiba di pintu surga, St. Peter berkata: 'Kembalilah ke bumi, di atas sini tidak ada lagi fakir miskin.' (Dari cerita pangeran Michael Greece, 1996, ON HER LIFE'S WORK). Kita berpikir pekerjaan kita seperti sebuah tetesan air di tengah samudra, kecil tak berarti. Tetapi samudra akan berkurang karena ada setetes air yang hilang itu. Keajaiban bukan karena kami melakukan pekerjaan itu, tetapi bagaimana kami semua dapat bersuka cita melakukan pekerjaan tersebut."
"Apabila anda menghakimi orang, anda tidak akan punya waktu untuk mencintai mereka."
"Saya mencoba memberikan kasih pada kaum miskin dimana orang kaya tidak dapat mewujudkannya dengan uang. Saya tidak akan sentuh seorang kusta demi ribuan uang pounds, tetapi saya ingin menyembuhkannya demi cinta Tuhan."
"Saya menemukan paradoks. Jika anda mengasihi seseorang sampai terluka, maka di situ tidak akan ada lagi penderitaan, hanya cinta."
"Saya tidak tahu pasti seperti apa surga itu. Yang saya tahu adalah: Ketika kita meninggal dan pada saatnya Tuhan menghakimi kita, Dia tidak akan menanyakan berapa banyak perbuatan baik yang kita lakukan dalam hidup kita, tetapi Dia akan menanyakan berapa banyak kasih yang kita taruh dalam setiap perbuatan tersebut."
"Jangan pernah berpikir bahwa kasih, agar murni, maka harus yang luar biasa. Yang kita butuhkan adalah mengasihi tanpa pernah merasa lelah."
"Setiap kali anda tersenyum tulus kepada seseorang, itu merupakan sebuah tindakan kasih, sebuah hadiah untuk orang tersebut, sesuatu yang sangat indah."
"Pekerjaan baik merupakan keterkaitan yang membentuk untaian kasih."
"Setialah kepada perkara kecil, karena didalamnya terdapat kekuatanmu. Dalam setiap perkara ada Tuhan Yesus sendiri."
"Saya adalah sebuah pensil kecil didalam tangan Tuhan, yang sedang menulis surat cinta kepada dunia."
"Saya tidak berdoa untuk kesuksesan, yang saya minta hanyalah kepenuhan iman."
"Saya tahu bahwa Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang tidak dapat saya tangani. Saya hanya berharap, agar Dia tidak terlalu mempercayakan pada saya."
"Dalam kehidupan ini kita tidak dapat melakukan suatu hal yang besar. Kita hanya bisa melakukan pekerjaan kecil dengan cinta yang besar. Banyak orang salah menilai pekerjaan kami adalah sebuah tugas. Tugas kami adalah Cinta dari Tuhan Yesus. Tuhanku yang manis membuat saya menghargai tugas mulia ini dengan semua tanggung jawabnya, dan tidak pernah mengijinkan saya untuk mencemarkannya, dengan membiarkan saya pada ketidak-pedulian, ketidak-ramahan, atau ketidak-sabaran."
"Perkataan yang tidak memberikan terang Kristus meningkatkan kegelapan. Jangan puas hanya dengan memberikan uang. Uang tidaklah cukup. Uang mudah didapatkan. Yang mereka butuhkan adalah hati anda untuk mencintai. Jadi sebarkan cinta anda kemanapun anda pergi."
"Kita butuh mencari Tuhan, dan Dia tidak dapat ditemukan dalam kebisingan dan ketergesaan. Tuhan adalah teman dari ketenangan. Lihatlah pepohonan, bunga, rumput – mereka tumbuh didalam ketenangan. Lihatlah bintang, bulan dan matahari – bagaimana mereka bergerak dalam ketenangan. Kita membutuhkan ketenangan agar dapat menyentuh jiwa."
"Didalam akhir hidup kita, kita tidak akan dihakimi dengan seberapa banyak gelar yang kita miliki, atau seberapa banyak uang yang telah kita kumpulkan, atau seberapa banyak perkara besar yang telah kita lakukan. Kita akan di hakimi dengan ' Ketika Aku lapar, apakah kamu memberi Aku makanan? Ketika Aku telanjang, apakah kamu memberi Aku pakaian? Ketika Aku tidak punya rumah, apakah kamu memberi Aku tumpangan?"
Jika anda belum menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat, anda dapat melakukannya dengan mengulangi doa singkat dibawah ini: "Tuhan Yesus, Saya percaya bahwa Engkau adalah Anak Allah dan Juru Selamat. Saya membutuhkan kasih-Mu untuk membersihkan saya dari segala dosa dan kesalahan yang telah saya perbuat. Saya membutuhkan terang-Mu menyinari kegelapan dalam hatiku. Saya membutuhkan kedamaian-Mu untuk memenuhi hati saya. Saat ini saya membuka hati dan meminta-Mu untuk masuk di dalam kehidupanku, dan menikmati anugerah-Mu untuk kehidupan abadi, Amien. "Jesus is my God. Jesus is my Husband. Jesus is my Life. Jesus is my only Love. Jesus is my All!"

0 komentar  
Label: KATA - KATA BIJAK
CARA - CARA MENCAPAI KERENDAHAN HATI
Diposkan oleh Franzeka di 07:06

Cara-Cara Mencapai Kerendahan Hati 
 (oleh Mother Teresa)

1. Berbicara sedikit mungkin tentang diri sendiri.

2. Uruslah persoalan-persoalan pribadi.

3. Hindari rasa ingin tahu.

4. Janganlah mencampuri urusan orang lain.

5. Terimalah pertentangan dengan kegembiraan.

6. Jangan memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain.

7. ...Terimalah hinaan dan caci maki.

8. Terimalah perasaan tak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah.

9. Mengalah terhadap kehendak orang lain.

10. Terimalah celaan walaupun Anda tidak layak menerimanya.

11. Bersikap sopan dan peka, sekalipun seorang memancing amarah Anda.

12. Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai.

13. Bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat, walaupun Anda yang benar.

14. Pilihlah selalu yang tersulit.
0 komentar  
Label: CARA - CARA MENCAPAI KERENDAHAN HATI, KATA - KATA BIJAK
SABAR MENANTI WAKTU TUHAN
Diposkan oleh Franzeka di 07:01
Di dalam hidup ini, semua ada waktunya.
Ada waktunya kita menabur,
ada juga waktu menuai..

Mungkin dalam hidupmu bagai datang menyerbu,
Mungkin doamu bagai tak terjawab!
Namun yakinlah tetap.

Tuhan tak kan terlambat!
Juga tak akanlebih cepat!
Semuanya..
Dia jadikan indah tepat pada waktuNya.

Tuhan selalu dengar doamu !
Tuhan tak pernah tinggalkanmu !
PertolonganNya pasti kan tiba tepat pada waktuNya.

Bagaikan kuncup mawar ada waktunya mekar..
Percayalah..
Tuhan jadikan semua indah pada waktuNya..

Hendaklah kita selalu hidup dalam firmanNya
Percayalah kepada Tuhan !
Nantikan Dia bekerja pada waktuNya.

Tuhan takkan terlambat
Juga tak akan lebih cepat
Ajarilah kami setia selalu menantiMu Tuhan.

KEMBALILAH KEPADA-KU, SEBAB AKU TELAH MENEBUS ENGKAU!

Allah dalam diri-Nya sendiri sempurna dan bahagia tanpa batas. Berdasarkan keputusan-Nya yang dibuat karena kebaikan semata-mata, Ia telah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang bahagia. Karena itu, pada setiap saat dan di mana pun juga Ia dekat dengan manusia. Ia memanggil manusia dan menolongnya untuk mencari-Nya, untuk mengenal-Nya, dan untuk mencintai-Nya dengan segala kekuatannya, Ia memanggil semua manusia yang sudah tercerai-berai satu dari yang lain oleh dosa ke dalam keluarga-Nya, Gereja melalui jalan pertobatan. Ia melakukan seluruh usaha itu dengan perantaraan Putera-Nya, yang telah Ia utus sebagai Penebus dan Juru Selamat, ketika genap waktunya. Dalam Dia dan oleh Dia Allah memanggil manusia supaya menjadi anak-anak-Nya, dan dengan demikian mewarisi kehidupan-Nya yang bahagia.
Allah yang Mahabaik ingin manusia hidup berbahagia dalam hubungan cinta kasih dengan-Nya, untuk itu Ia memberikan manusia kehendak bebas, agar dapat mengasihi Allah dalam kebebasan. Dalam kenyataannya manusia telah menyalahgunakan kebebasan itu, merusak rusak kodratnya sebagai gambaran Allah dengan melakukan dosa, yang dapat membawa kepada kebinasaan. Puji Tuhan, dalam kebaikan-Nya yang tak terbatas, Allah telah mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan, memulihkan kembali manusia yang telah terpisah dengan Allah. Tetapi Allah menuntut kerja sama dari manusia, seperti yang dikatakan St. Agustinus: ”Allah telah menciptakan kita tanpa kita, tetapi Ia tidak mau menyelamatkan kita tanpa kita”, Allah menghendaki manusia untuk turut berperan aktif di dalam karya-Nya yang menyelamatkan diri manusia itu sendiri dan semua manusia di dunia ini melalui pertobatan. Yesus telah datang memberikan Kabar Gembira, bahwa Allah berbelas kasihan kepada orang berdosa, Yesus telah mengampuni semua dosa-dosa manusia dan tidak mengingatnya lagi, Ia memanggil manusia yang telah ditebus-Nya, untuk bertobat. "Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau!” (Yes 44:22)

Pertobatan Sebagai Rahmat Allah
Apa yang dimaksudkan dengan pertobatan menurut paham Injil, dapat kita pahami dalam perumpamaan tentang dua orang yang berhutang (Luk 7:41-43). Kedua orang berhutang itu melambangkan orang yang berdosa, karena hutangnya begitu saja dihapuskan tanpa perlu mengembalikan maka mereka begitu berterimakasih dengan mengasihi tuannya, yaitu Allah. Jadi orang lebih dahulu mengalami pengampunan dari Allah baru kemudian mengasihi Dia. Dengan kata lain pertobatan merupakan suatu tanggapan dari kebaikan hati Allah yang dialami orang berdosa. Manusia lebih dahulu mengalami Allah, kemudian barulah dia bertobat, meninggalkan dosa-dosanya dan berbalik kepada Allah. Jadi pertobatan yang diberitakan Yesus tidak merupakan syarat untuk mendapatkan keselamatan (Kerajaan Allah), melainkan keselamatan telah dianugerahkan, rahmat Allah telah dan akan terus dicurahkan kepada manusia sehingga menghasilkan pertobatan. Allah mendekati manusia, merangkul dan mengangkatnya menjadi anak-anak-Nya, menjadi ahli waris Kerajaan-Nya. Lalu manusia yang sebelumnya adalah tawanan dan budak dosa bertobat, mengubah jalan hidupnya, berbalik kepada Allah yang baik dan menyerahkan diri kepada kehendak-Nya.
Di dalam Injil digambarkan Yesus senang bergaul dengan orang berdosa, sebab Ia datang untuk orang berdosa, ia dekat dengan para pemungut cukai, pelacur, mereka yang dianggap berdosa, sebagai sampah masyarakat dan kaum kafir menurut pandangan pada zaman itu. Tidak dikatakan bahwa mereka lebih dahulu bertobat sebelum bertemu Yesus, tetapi Yesus lebih dahulu berbuat baik kepada mereka lebih dahulu. Contoh: seorang wanita yang kedapatan berzinah (Luk 8:2-11), wanita samaria (Yoh 4:1-26), Zakheus kepala pemungut cukai (Luk 9:1-10), salah seorang penjahat yang Disalibkan bersama Yesus (Luk 23:40-43).

Yesus Sang Penyelamat
Allah Sang Penyelamat menunjukkan kasih-Nya kepada manusia, Ia telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Rm 5:8), Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih (Kol 1:13).
Ia telah memberikan diri-Nya sendiri sebagai korban penebus dosa-dosa semua manusia, seperti yang dikatakan St. Paulus : “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,” (1Kor 15:3). Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Dan tidak seorangpun dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa pertolongan Allah (bdk Mzm 49:8), “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah “(Rm 3:23) “Sebab upah dosa ialah maut” (Rm 6:23), jadi akibat dari perbuatan dosa manusia adalah kematian dan penderitaan kekal tetapi Allah telah menebus kita dari hamba dosa yang seharusnya menerima keterpisahan dengan Allah sebagai ganjarannya, Ia telah datang ke dunia memilih untuk menjadi manusia, mengalami segala penderitaan dan kelemahan manusiawi. Sama seperti manusia lainnya, Yesus memilih mati, wafat secara tidak terhormat dalam kehinaan, turun ke dunia orang mati dan menjadi tak berdaya sama sekali. Dengan jalan itu Allah berkenan membebaskan manusia dari semua nasib malangnya, dari kutuk, dari dosa dan kematian karena dosa. Ia memikul dosa dan kutuk yang seharusnya ditanggung manusia, Ia memilih menderita demi menyelamatkan manusia, “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes 53:5). Ia memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang agar manusia terbebas dari siksaan abadi. Dan Ia hadir sebagai pengantara kepada Bapa, kepada keselamatan kekal “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25)

Sabda Allah Memanggil Manusia Untuk Bertobat

Bertobat berarti terbuka terhadap tawaran kasih Allah dan menerima Dia sebagai pusat di dalam kehidupan ini. Maka pertobatan harus diwujudkan dengan meninggalkan masa lalu yang penuh dosa, berbalik dari cara hidup yang lama dan menempuh hidup yang baru. Sesungguhnya, pertobatan merupakan jawaban dari panggilan Tuhan Yesus yang pertama untuk manusia dalam karya perdana-Nya di daerah Galilea. Yesus menyerukan pertobatan, yang merupakan inti dari pewartaan-Nya di samping tentang Kerajaan Allah: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 4:17, bdk. Mrk 1:15), dan untuk inilah Yesus datang ke dunia, Ia hadir bukan untuk menjadi hakim yang kejam tetapi sebagai juru selamat: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:32). Ia tidak menghendaki kematian orang berdosa (bdk. Yeh 33:11), tetapi Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan (bdk. 1Tim 2:3-4) Ia lebih rindu Manusia mengalami pertobatan dan diselamatkan daripada manusia itu sendiri merindukan keselamatan. Dalam pewartaan-Nya Yesus menyatakan betapa penting dan sungguh mendesak untuk kebaikan manusia sendiri, suatu pertobatan untuk menerima kehidupan kekal dan syarat masuk dalam Kerajaan Sorga (Mat 11;20-21 ; 18:3 ; 23:15), sebelum kenaikan-Nya ke Sorga, Jadi untuk masuk Surga orang harus bertobat. Ia pun memberi tugas kepada para murid untuk melanjutkan karya penyelamatan ini: “...berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa,...” (Luk 24:47). Pertobatan juga merupakan pesan pokok para nabi Perjanjian Lama (Hos 14:2, Yes 1:27, Yeh 18:30,Yl 2:12-14, Mal 3:7), Yohanes pembaptis (Mat 3:2 ; 3:8) dan orang Kristen Perjanjian Baru serta Gereja-Nya (Kis 2:38 ; 8:22 ; 11:18 ; 2Ptr 3:9).
Menjadi orang Kristen adalah mengikuti Kristus karena mengasihi-Nya, tetapi karena kita lebih dahulu dikasihi-Nya (1Yoh 4:10). Tuhan menghendaki kita untuk menjawab panggilan-Nya yaitu dengan mengasihi Dia, seperti yang dilakukan-Nya pada Simon Petrus, Tuhan pun bertanya kepada kita; ”...apakah engkau mengasihi Aku?"..."Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau...” “Ikutilah Aku” (bdk. Yoh 21:15.19). Mengikuti Yesus mengandung keputusan untuk menyerahkan diri sepenuhnya untuk dibimbing, diubah, dibentuk menuju kepada kekudusan. Tuhan akan selalu memanggil manusia yang lemah, penuh kekurangan dan dosa untuk menggapai uluran tangan-Nya, mengalami kasih-Nya yang tak terbatas dan kemudian mengubah mereka, menjadi saluran kasih kepada sesamanya.

Pertobatan yang sesuai dengan kehendak Allah

Pertobatan yang merupakan rahmat Allah yang cuma-cuma dapat diumpamakan seperti benih yang ditaburkan di tanah (Mrk 4:1-20), diharapkan Allah dapat tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah. Buah pertobatan ini juga merupakan tuntutan (Mat 3:8), dan harus buah yang baik (Mat 7:19) bila tidak maka pohonnya pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Dalam kebaikan-Nya yang tanpa batas Allah telah memelihara pohon ara yang tidak berbuah, setelah pohon itu menikmati segala kebaikan-Nya, diharapkan ia akan berbuah, namun jika tidak menghasilkan buah, pada saatnya pasti akan ditebang juga (bdk. Luk 13:6-9). Dalam surat kepada orang Ibrani (Ibr 6:4-8), dikatakan bahwa mereka yang telah mengalami berkat pertobatan dari Allah tetapi mereka tidak menghasilkan buah pertobatan, lebih lagi murtad, maka orang itu sudah dekat pada kutuk yang berakhir pada pembakaran dan ia tidak berguna sama sekali. Orang yang telah diselamatkan dan dijadikan ahli waris Kerajaan Allah, namun tidak berlaku sebagai anak Allah akan dibuang dan jatuh binasa pada waktunya. Jadi manusia bertanggung jawab atas rahmat Allah ini, bekerja sama dengan rahmat Allah sehingga menghasilkan buah berlimpah dengan terus-menerus harus memelihara dan mengembangkannya melalui pikiran, perbuatan dan perkataan sehari-hari. Proses pertobatan ini tidak terjadi sekali saja, melainkan terus-menerus selam hidup di dunia, karena dengan kodratnya yang lemah manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa (concupiscentia), sehingga tidak satu orang pun di dunia ini yang tidak pernah berbuat dosa, bahkan orang paling saleh pun pernah berbuat dosa, ini dikatakan dalam kitab Pengkotbah : “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” (Pkh 7:20), dalam kitab Amsal: orang benar pun jatuh tujuh kali sehari (bdk. Ams 24:16). Juga dikatakan oleh St. Yohanes dalam suratnya: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita“ (1Yoh 1:8). Maka semua orang perlu sekali untuk mempunyai sikap pertobatan yang benar yang sesuai dengan kehendak Allah untuk menghasilkan buah yang melimpah.
Allah menghendaki manusia mengalami metanoia (bahasa Yunani: perubahan hati), sebuah pertobatan yang membutuhkan perubahan hati yang total. Pengampunan dosa yang total juga membutuhkan suatu pertobatan yang total, ini dapat kita lihat dalam kitab nabi Yehezkiel: “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti mati! -- tetapi ia bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran, orang jahat itu mengembalikan gadaian orang, ia membayar ganti rampasannya, menuruti peraturan-peraturan yang memberi hidup, sehingga tidak berbuat curang lagi, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Semua dosa yang diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi; ia sudah melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia pasti hidup" (Yeh 33:14-16). Perubahan hati yang sejati bukan hanya menghindari dan tidak melakukan dosa tetapi berbalik arah kepada Allah, bukan hanya memilih antara berbuat dosa dan tidak berbuat dosa tetapi mencari Allah di atas segala-galanya dengan melakukan kebajikan-kebajikan yang merupakan buah dari pertobatan yang otentik.
Satu halangan yang besar untuk bertobat adalah kekurangan kehendak yang kuat untuk berubah, bila manusia terlalu terfokus pada dosa-dosanya, ”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23), sehingga tidak ada seorangpun dapat berharap berada tanpa dosa sepanjang hidupnya, lalu bagaimana seseorang dapat memiliki pertobatan yang sejati atau otentik? Jawaban yang tepat adalah tentunya adalah selalu menyadari dalam terang akal budi, kelemahan-kelemahan manusiawi dan kemungkinan-kemungkinan mengalami kejatuhan dalam dosa. Kemudian harus memiliki suatu kehendak yang kuat untuk tidak berbuat dosa lagi, meskipun melalui akal budi kita tahu bahwa kita akan mengalami kejatuhan yang tidak diinginkan. Dalam doa tobat kebenaran ini dinyatakan: ”…Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi…“ Inilah kehendak yang kuat untuk berubah yang menggambarkan suatu pertobatan otentik yang benar dan merupakan kunci yang membuka aliran kasih Allah yang melimpah. Sekaligus menyadari ketidakberdayaannya, ketidakmampuannya, kedosaannya di hadapan Allah dan hanya mengandalkan rahmat dan ketergantungannya kepada kebaikan Allah. Karena pertobatan adalah merupakan rahmat Allah semata-mata (bdk. Kis 5:31), suatu karya keselamatan Allah yang diberikan dengan cuma-cuma, yang perlu ditanggapi oleh manusia dengan usaha-usaha mereka, bila tidak keselamatan ini akan lenyap. Dalam Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa pertobatan adalah satu penataan baru seluruh kehidupan, satu langkah balik, pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, pelepasan dosa, berpaling dari yang jahat, yang dihubungkan dengan keengganan terhadap perbuatan jahat yang telah kita lakukan. Sekaligus ia membawa kerinduan dan keputusan untuk mengubah hidup, serta harapan atas belas kasihan Ilahi dan bantuan rahmat-Nya. Pertobatan jiwa ini diiringi dengan kesedihan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan, yang bapa-bapa Gereja namakan animi cruciatus (kesedihan jiwa), compunctio cordis (penyesalan hati) (Katekismus No. 1431).

ASAS DAN DASAR MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK MEMUJI DAN MENGHORMATI

ASAS DAN DASAR
Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan.

Karena itu manusia harus mempergunakannya, sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya.

Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tak ada larangan. Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan.

( Rohani, 23 )
___________________

( Wakeikagoo.Net )

Ekonomi Memdesak Politik Desentralisasi Baik.

Konsep Otonomi Daerah kini dipertanyakan.Politik desentralisasi sebagai antitesis sentralisasi rezim Orde Baru itu mulai goyah.
Pemekaran daerah sebagai langkah teknis implementasi otonomi daerah menuai hasil kontraproduktif dengan rencana capaian pembangunanpasca-Reformasi.Orientasi kesejahteraan sebagai wujud dari keinginan konsep itu senyatanya masih jauh panggang dari api.
Pelbagai upaya pun dilakukan seperti memberikan suntikan dana lebih besar dari APBN kepada daerah pemekaran melalui dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK).
Selain itu, manfaat yang bisa dipetik dari hasil otonomi daerah, antara lain, daerah mampu mandiri dan ketergantungan kepada pusat dapat dikurangi.Namun idealitas ini hanya ”diwiridkan” tanpa perwujudan. Tak pelak, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri mengimbau kepada DPR dan DPD untuk melakukan moratorium dan evaluasi pemekaran daerah.
Implikasi
Tidak semua pemekaran wilayah berhasil. Ia sekaligus membuktikan bahwa selama ini belum ada kematangan grand design otonomi daerah. Politik desentralisasi itu senyatanya lebih banyak dilahirkan dari motif reaktif dan tarik ulur kepentingan sehingga kian jauh dari orientasi kesejahteraan dan pemerataan kemakmuran rakyat.
Pemekaran wilayah menjadi kian problematis karena kegagalan itu berakibat langsung ke jantung realitas masyarakat. Sebut saja disintegrasi, ketakjelasan wilayah, dilema kepemimpinan daerah, dan meningkatnya kemiskinan menjadi warna dominan kegagalan pemekaran wilayah.
Hasil pemekaran daerah yang tak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan suprastruktur pada gilirannya menghasilkan daerah miskin baru yang selalu ”menyusu” kepada daerah induk. Kondisi pemekaran wilayah yang kian mengkhawatirkan ini mesti disikapi secara bijak oleh pemerintah dan DPR.
Tentu saja selain moratorium, harus pula dilakukan langkah strategis lain dalam mengamankan jaring ekonomi dan sosial masyarakat di daerah pemekaran yang dikategorikan gagal. Lantas, agar tidak mengulangi kesalahan berlapis atas ketidakjelasan orientasi otonomi daerah, selain moratorium, terdapat dua cara yang mesti dilakukan oleh pihak eksekutif dan legislatif.
Pertama, memperketat mekanisme pemekaran wilayah.Di titik ini, PP No 78 Tahun 2007 tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan Daerah mesti ditinjau dan dikaji ulang. Fakta kegagalan pemekaran mesti menjadi apresiasi yang komprehensif: di mana letak kelemahan aturan tersebut? Itu adalah tanggung jawab pemerintah.
Kedua, mengevaluasi hasil daerah pemekaran. Eksekutif dan legislatif sudah saatnya membicarakan standardisasi tingkat keberhasilan dan kegagalan pemekaran wilayah, baik dilihat dari aspek ekonomi dan keuangan, efektivitas pemerintahan maupun kondisi sosial kemasyarakatannya. Jika dianggap gagal, daerah pemekaran bisa dikembalikan ke daerah induk. Karena itu pemerintah diniscayakan membuat peraturan baru tentang penggabungan wilayah.
Konstruksi Konstitusi
Implikasi lain dari distorsi pemekaran wilayah adalah dijadikannya tuntutan itu sebagai alat untuk menggertak pemerintah pusat dengan cara mengembangkan isu disintegrasi nasional. Tidak jarang strategi itu berpengaruh bagi pemegang kekuasaan legislasi,yaitu DPR,pemerintah, dan DPD. Untuk memahami hal ini patut dikemukakan konstruksi konstitusi.
Pertama, pluralisme Indonesia adalah wujud dari karakter bangsa sejak zaman perjuangan kemerdekaan. Kebangkitan nasional 1908 yang ditandai dengan Gerakan Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, dan Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan puncak dari semangat persatuan nasional.
Para pejuang kemerdekaan dan pergerakan pemuda sadar betul untuk menyatukan diri ke dalam Republik Indonesia dengan menanggalkan semangat kedaerahan. Jadi, sesungguhnya yang melatarbelakangi berdirinya negara Indonesia adalah semangat kebangsaan, bukan semangat kedaerahan. Jika motivasi pemekaran wilayah ini untuk menyuburkan kembali semangat kedaerahan, itu bertentangan dengan semangat kemerdekaan.
Kedua, para pendiri negara (the founding fathers) kita sadar betul bahwa negara kesatuan adalah pilihan yang dapat mengikatkan seluruh entitas bangsa. Karena itu negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik (Pasal 1), baik sebelum maupun sesudah amendemen UUD 1945. Itu adalah landasan konstitusional yang patut untuk direnungkan dan dipegang teguh.Federalisme memang sengaja tidak dipilih, disebabkan pendiri negeri kita ingin menjalankan konsep kekeluargaan dalam sistem ekonomi kita.
Ketiga, elaborasi dari bentuk negara kesatuan tersebut dirumuskan secara baik dalam Pasal 18 UUD 1945,yaitu ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota,yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.” Terminologi ”dibagi atas” tersebut bukanlah dirumuskan tanpa maksud.
Terminologi itu dengan sadar dirumuskan dalam rangka menunjukkan kepada penerus bangsa ini bahwa negara Indonesia itu adalah ultimate goal dari sejarah pergerakan bangsa. Jadi, dalam pengertian ini, negara Indonesia dalam konsep pemerintahan lebih dahulu terbentuk dari konsep pemerintahan daerah. Karena itu bunyinya ”dibagi atas”, bukan ”terdiri dari” provinsi, kabupaten,dan kota.
Merujuk original intent, soal perumusan dan amendemen UUD 1945 tersebut, sudah saatnya para elite nasional atau elite daerah menyadari bahwa pemekaran wilayah bukanlah satu-satunya cara untuk mempercepat kesejahteraan rakyat. Itu semua sesungguhnya terletak pada manjerial pemerintah pusat-daerah dan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
Kesenjangan antarprovinsi dan antarkabupaten/kota di provinsi dapat diselesaikan dengan politik anggaran yang berbasis kebutuhan dasar pembangunan. Di sinilah makna keahlian membuat APBN dan APBD oleh pemerintah dan legislator perlu pendapat perhatian semua pihak.
Desentralisasi pemerintahan terhadap urusan pembangunan bukan berarti harus dijawab dengan pembentukan atau pemekaran wilayah baru, melainkan dengan penyerahan urusan kepada daerah. Memang,tatkala nafsu menyeruak untuk meng-ego-kan kepentingan daerah,sulit untuk dihentikan secara mendadak.
Paling tidak ajakan Presiden SBY untuk melakukan moratorium pemekaran wilayah patut direnungkan semua pihak. Pelajaran dari negara besar USSR yang terbagi menjadi negara-negara kecil sebagai korban dari kebijakan Glasnost– Perestroika–Demokratizatia patut menjadi catatan berharga. Jamur pemekaran wilayah di musim demokratisasi di Indonesia jangan melahirkan korban baru.Menyesal memang tidak pernah di depan!(telah dipublikasikan di seputar-indonesia,(25/16).

DPR kembali mengeluarkan 8 RUU yang menjadi UU tentang pemekaran daerah.

Pada tanggal 17 Juli 2007 kemarin telah disahkan 8 daerah tingkat dua baru di 7 propinsi, dengan rincian 2 kota administratif dan 6 kabupaten, yakni :
Kota Serang di propinsi Banten
Kota Tual di kabupaten Maluku Tenggara, Maluku
Kabupatan Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur
Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat
Kabupaten Tanah Tidung, Kalimantan Timur
Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara, Sumatera Utara (Kalau Angkola Sipirok itu bagaimana ya?), dan
Kabupaten Pesawaran, Lampung
Pengesahan tersebut tak ayal membuat masyarakat daerah pemekaran yang hadir bergembira, bahkan ada sekelompok orang asal daerah Manggarai Timur yang menarikan tarian tradisional mereka sebagai tanda syukur atas terbentuknya kabupaten baru. Bahkan sekelompok orang asal Pesawaran Lampungpun memakai pakaian tradisional mereka saat berada di gedung DPR kemarin. Harapan demi harapan sudah barang tentu terlontar atas terbentuknya daerah baru tersebut.
Namun demikian, ada juga yang kontra dengan pemekaran, khususnya atas pembentukan Kota Tual sebagai pecahan dari Kabupaten Maluku Tenggara. Ada massa yang berunjuk rasa menolak pembentukan tersebut karena dianggap memecah-belah Maluku Tenggara ditambah masih adanya ganjalan didalam DPRD Maluku Tenggara sendiri kendati akhirnya bisa diatasi dengan baik.
Sementara, Bupati Bulungan, Kalimantan Timur dilansir disebuah media menyatakan rasa syukurnya atas terbentuknya Kabupaten Tanah Tidung sebagai wujud aspirasi warga setempat yang menginginkan perbaikan khususnya dibidang birokrasi dan ekonomi.
Penyebab Pemekaran Wilayah
Penyebab munculnya tuntutan pemekaran daerah sendiri banyak dipicu dari beberapa hal, namun penyebab utamanya antara lain :
Tidak meratanya pembangunan suatu wilayah. Semisal dalam satu kabupaten, hanya beberapa kecamatan saja yang mengalami kemudahan dalam ekonomi maupun birokrasi, sementara beberapa kecamatan lainnya dikarenakan jaraknya yang jauh dari pusat kabupaten, akhirnya menjadi tertinggal dan merasa diabaikan oleh induknya.
Daerah tersebut terlalu luas dari segi wilayah, semisal Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur yang akhirnya dipecah menjadi 3 kabupaten baru (Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Kutai Timur), Kabupaten Donggala yang dipecah menjadi Donggala dan Parigi Moutong, Kabupaten Poso yang dimekarkan menjadi 3 wilayah (Poso, Morowali dan Tojo Una-Una) dan demikian seterusnya. Tapi dalam kasus Minahasa, sebenarnya wilayah Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara tidak seberapa besar, namun dimekarkan menjadi Minahasa Utara, Minahasa dan Minahasa Selatan plus Minahasa Tenggara, bahkan Kabupaten Bolaang Mongondow yang wilayahnya lebih luas justru tidak dimekarkan. (baru tahun 2006 dimekarkan menjadi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Kota Kotamubagu)
Atau bisa juga pemekaran itu ditujukan untuk politik seperti kejadian di Papua dengan dibentuknya propinsi Papua Barat diwilayah kepala burung

Syarat-syarat pemekaran wilayah
Untuk pemekaran daerah ini, diperlukan beberapa syarat seperti misalnya setidaknya ada 3-5 kecamatan yang bergabung dalam wilayah pemekaran, dan tentunya dengan alasan yang tepat, mengapa wilayah tersebut ingin lepas dari daerah induknya. Baik dengan alasan sejarah, potensi ekonomi maupun peta politik yang kesemuanya itu berperan atas maraknya tuntutan pemekaran wilayah.
Terhitung sejak tahun 1999, terlebih pasca otonomi daerah digulirkan, sekitar 7 propinsi baru telah dilahirkan dan puluhan kabupaten baru dimekarkan dari kabupaten induknya. Sementara tuntutan pemekaran wilayah dibeberapa propinsi tetap marak, bahkan tidak sedikit yang menimbulkan konflik, antara yang pro dengan kontra pemekaran itu sendiri. Yang pro-pemekaran merasa perlu agar akses ke pusat pemerintahan wilayah lebih pendek dan jalur ekonomi akan lebih efisien sehingga wilayah pemekaran nanti akan lebih maju. Sementara yang kontra juga merasa bahwa pemekaran itu tidak ada gunanya, dengan sering memandang remeh daerah yang hendak mekar tersebut. Dengan kata lain, ada kekhawatiran kalau PAD (Pendapatan Asli Daerah) wilayah induk akan berkurang, apalagi jika daerah pemekaran itu sangat maju.

Separatisme Lokal
Jika ditelaah lebih lanjut, pemekaran wilayah ini sebenarnya merupakan bentuk kecil dari separatisme wilayah dengan nama pemekaran wilayah. Separatisme lebih diartikan dengan gerakan memisahkan diri untuk membentuk suatu wilayah berdaulat (dalam hal ini negara), yang dipicu dari ketidakadilan pusat terhadap wilayahnya khususnya dipelosok.
Untuk hal tersebut, pemerintah dituntut lebih memperhatikan dan membangun pusat-pusat ekonomi baru diwilayah pinggiran Indonesia agar bisa meredam gerakan separatisme besar. Separatisme kecil (pemekaran wilayah) saja sudah cukup merepotkan, malah yang model ini perlu didukung agar pembangunan merata. Tentunya, syarat dan ketentuan berlaku, karena tidak mudah meloloskan suatu daerah menjadi mandiri.
Awas, salah urus bisa runyam nantinya

Efektifkah?
Menurut sebuah survei yang diadakan sebuah media cetak beberapa waktu yang lalu, ada pemetaan atas wilayah hasil pemekaran baik yang berpotensi kecil, maupun yang berpotensi besar. Potensi terbesar salah satunya adalah Kota Batu (pecahan dari Kabupaten Malang) sedangkan salah satu yang berpotensi rendah adalah Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan (pecahan Musi Rawas). Bahkan kadang masih ada konflik antara wilayah pemekaran dengan wilayah induknya khususnya pada aset-aset daerah seperti yang terjadi antara wilayah Kota Lubuk Linggau dengan Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan berkenaan dengan aset kabupaten yang ada di kota tersebut setelah ibukota Musi Rawas dipindahkan.

Nah, sekarang dengan semakin banyaknya wilayah-wilayah baru, belum termasuk yang masih diproses, apakah nantinya akan mensejahterakan warga pemekaran atau hanya akan membangun raja-raja kecil didaerah yang pada akhirnya malah membuat sengsara rakyat? Mereka butuh bukti, bukan janji, dan kemana sesudahnya?

Sudah banyak buktinya, Bung!

Penulis : Frans Mote
Radaksi : Wakeikagoo.Net