Oleh: Saverius
Fransiskus Mote
Danau Paniai berada pegunungan tengah kabupaten paniai, daerah pedalaman
Propinsi Papua. Danau ini memiliki luas 14.500 Ha , berada pada ketinggian
7.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Secara geografis, disebelah timur
berbatasan langsung dengan Distrik Paniai Timur, bagian barat dengan Distrik
Paniai Barat, bagian utaranya berbatasan dengan Distrik Kebo, Ekadide dan
Agadide, serta dibagian utaranya berbatasaan dengan Distrik Yatamo. Dibagian timur
danau paniai terdapat gunung bobaigo yang menjorok kedalam danau, terdapat pula
pulau mayageiya yang membentang ditengah danau ini, serta tanjung kaigo
dibagian selatannya, danau paniai juga dikelilingi oleh deretan pegunungan yang
membentuk sebuah cekungan raksasa. Danau paniai mendapat suplai air dari
beberapa sungai besar diantaranya, sungai weya, sungai ekadide, sungai agadide,
sungai koto dan beberapa kali-kali kecil yang bermuara langsung ke danau ini.
Danau paniai hanya memiliki satu tempat pembuangan di sungai yawei yang
bermuara didaerah kokonao (Timika). Danau paniai juga mempunyai fungsi ekonomi
yang sangat penting sebagai penyangga kehidupan bagi masyarakat paniai yang
bermukim pada wilayah tepian danau. Salah satu fungsi terpenting danau paniai
adalah perikanan, baik budidaya maupun perikanan tangkap yang dilakukan secara
tradisional.
- Sejarah
Singkat Danau Paniai
Pada awalnya, Danau Paniai beserta Danau Tigi dan Danau Tage dinamakan
Wissel Meeren. Penamaan ini dinisbatkan kepada orang yang pertama kali
menemukan ketiga danau cantik tersebut pada tahun 1938, yaitu seorang pilot
berkebangsaan Belanda bernama Wissel. Pada saat itu, Wissel terbang melintasi
pegunungan Pulau Irian dan melihat tiga danau yang memiliki pemandangan yang
indah. Karena terpesona dengan keindahannya, Wissel memutuskan untuk mendarat
dan menikmati eksotisme ketiga danau tersebut dari dekat. Pada masa kolonial
Belanda, nama Wissel Meeren lebih populer ketimbang Paniai. Wissel Meeren
berasal dari bahasa Belanda yang memiliki arti danau-danau Wissel.
- Faktor-Faktor
Penyebab Degradasi Danau Paniai
Danau Paniai terus mengalami pendangkalan. Kepala BAPEDALDA Kabupaten
Paniai Barnabas Gobai mengatakan, pada 2002 kedalaman danau 70 meter namun
hingga kini hanya 15 meter. Pendangkalan akibat meningkatnya sedimentasi dari
kali yang bermuara ke danau. Kata dia, pendangkalan sangat signifikan yaitu
sebesar 55 meter dalam 10 tahun terakhir.
“Ya, pendangkalan ini karena air dari kali kali itu dari gunung turun pada saat
hujan di bawah air, bawa kayu kayu, akhirnya danau jadi dangkal. Pendangkalan
itu 2002 itu sekitar 75 meter pendangkalan, jadi kalau kita ukur 2006 danau
Paniai ini sekitar 15 meter."ujar Gobai.
Kepala BAPPEDALDa Kabupaten Paniai Barnabas Gobai menambahkan, pada tahun 1935
saat diukur para misionaris kedalamannya danau Paniai sekitar 300 meter. (
KBR68H Paniai)
Dampak pendangkalan dan penyempitan turut mempengarui keseimbangan ekologis
danau paniai, setidaknya ada tiga penyebab dari permasalahan besar tersebut
yang sangat kompleks dan terkait dengan masalah-masalah lain di danau paniai
yaitu sedimentasi/erosi, pencemaran dan introduksi ikan. Laporan Bappedal Pusat
(2000) menunjukkan bahwa setidaknya ada 3 sumber-sumber pencemar air danau
yaitu 1) Kegiatan Rumah Tangga yang menghasilkan bahan buangan organik
(dedaunan, bekas bungkusan kertas), buangan olahan bahan makanan (ikan,
daging), buangan zat kimia (dari sabun, detergen, shampoo, dan bahan pembersih
lain), 2) Kegiatan Pertanian seperti penggunaan pestisida (insektisida,
herbisida, zat pengatur tumbuh) dan pupuk (ZA, DAP, Urea, NPK dan lain-lain),
3) Kegiatan Industri dengan 4 golongan yaitu industri makanan dan tembakau,
pertenunan sutera dan pakaian jadi, industri kayu dan perabot, industri
percetakan. Bahan buangan dari industri berupa buangan padat, organik, olahan
makanan dan zat kimia. Sedimen yang masuk ke danau paniai merupakan akumulasi
erosi dan buangan rumah tangga dan industri sepanjang tahun, contoh konkretnya
di enarotali, masyarakat menjadikan kali enaro yang bermuara ke danau paniai
sebagai tempat pusat pembuangan sampah, baik itu sampah rumah tangga maupun
limbah industri kecil.
Meningkatnya sedimentasi/erosi lebih disebabkan oleh penebangan hutan di
sekitar hulu sungai ekadide, agadide, koto, weya dan kali-kali kecil yang
bermuara kedanau dan juga di sepanjang danau paniai, hingga aliran air pada
saat hujan mengikis lapisan tanah dan terbawa ke sungai dan diantar ke danau.
Suara Publik (2003) menulis bahwa akibat kerusakan lingkungan, telah terjadi
pendangkalan dan penyempitan danau. Di musim kemarau, danau hampir kering
dengan rata-rata kedalaman air hanya 0,5 – 1,0 meter. Sebaliknya, pada puncak
musim hujan, air banjir pemukiman penduduk dan menghanyutkan segalanya.
Akumulasi partikel batuan dan tanah yang dibawah oleh sungai ketika banjir pada
saat musim penghujan telah mengakibatkan terjadinya pendangkalan yang hebat
terutama dibagian utara danau paniai oleh sungai ekadide, agadide dan sungai
weya begitupun yang terjadi di bagian barat danau paniai oleh sungai koto dan
sungai- sungai lainnya, semua itu mengakibatkan penyempitan danau paniai, hai
ini sebagai pemicuh meluapnya air danau pada akhir-akhir ini yang sering
dialami oleh masyarakat paniai, hingga menenggelamkan kebun –kebun dan
pemukiman penduduk yang dikarenakan oleh meninggkatnya volume air didanau
paniai.
Pada badan air danau paniai, juga terdapat banyak tanaman air baik yang tumbuh
didasar danau dan di tepian danau. Tanaman air ini menjadi perangkap sedimen
dan mengendapkan sedimen ke dasar danau paniai. Menurut penelitian Nippon Koei
(2003), bahwa sepanjang musim hujan 80 – 90 persen permukaan danau ditutupi
oleh tanaman air. Tanaman air yang menjadi gulma di danau paniai didominasi
oleh eceng gondok, akar tanaman ini dapat mencapai dasar danau dan menjadi
perangkap sedimen, kemudian mengendapkan di dasar danau hingga terjadi
akumulasi sedimen di daerah tepian danau hingga mengakibatkan terjadinya
pendangkalan dan kekeruan air di seputar tepian kampung aikai.
Peningkatan gulma air pada beberapa tempat di danau paniai, lebih disebabkan
oleh pencemaran air (Eutrofikasi). Eutrofikasi merupakan problem lingkungan
danau paniai yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-), khususnya dalam
ekosistem danau. Eutrofikasi telah merangsang pertumbuhan tanaman air lainnya
di danau paniai, baik yang hidup di tepian (eceng gondok) maupun dalam badan
air (hydrilla). Oleh karena itu beberapa daerah di danau paniai yang berdekatan
dengan pemukiman penduduk ( sekitar pasar enaro, komopa, ekadide dan obano)
telah mengalami eutrofikasi tepiannya dan ditumbuhi dengan subur oleh tanaman
air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), Hydrilla dan rumput air
lainnya. Peningkatan gulma air ini menyebabkan tertutupnya permukaan danau
sehingga menghambat aktivitas fitoplankton yang melakukan fotosintesis. Hal ini
berdampak terhadap proses metabolisme organisme air di danau paniai yang pada
umumnya bergantung pada hasil fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton.
Menurut Goldmen dan Horne (1938), eutrofikasi perairan danau dapat terjadi
secara : Cultural Eutrophication. Yang dimaksud dengan cultural eutrophication
adalah eutrofikasi yang disebabkan karena terjadinya proses peningkatan unsur
hara di perairan oleh aktivitas manusia. Kita patut sadari bersama bahwa
aktivitas manusia telah banyak meninggkatkan eutrofikasi di danau paniai.
Menurut Morse et al (The Economic and Environment Impact of Phosporus Removal
from Wastewater in the European Community, 1993) 10 persen berasal dari proses
alamiah di lingkungan air itu sendiri (background source), 7 persen dari
industri, 11 persen dari detergen, 17 persen dari pupuk pertanian, 23 persen
dari limbah manusia, dan yang terbesar, 32 persen, dari limbah peternakan.
Walaupun data statistik di atas tak tentu relevan dengan situasi kabupaten
paniai, namun secara aktual jelas menunjukkan bagaimana berbagai aktivitas
masyarakat dan semakin besarnya jumlah populasi manusia menjadi penyumbang
terbesar bagi lepasnya fosfor ke lingkungan danau paniai. Dari data statistic
di atas juga dapat diketahui bahwa 90 % penyebab eutrofikasi adalah berasal
dari aktivitas manusia.
Selain faktor sedimentasi dan eutrofikasi, salah satu faktor penyebab tejadinya
degradasi danau paniai adalah ikan introduksi. Penebaran ikan introduksi/ikan
asing secara bebas di danau ini, telah berdampak buruk pada jenis-jenis biota
endemic danau paniai. Menurut pengakuan masyarakat nelayan danau paniai, jenis
ikan endemic seperti binei
(sejenis gabus pasir), yukugo (sejenis udang renik), dan egaa ( jenis siput
danau) tak terlihat lagi (Mungkin telah punah), hal itu terjadi setelah
masuknya ikan-ikan dari luar paniai. Di danau sentani, ikan introduksi (Reed
Devil) telah mengancam habitat dan kehidupan biota edemik (Ikan Gabus Sentani).
Ikan introduksi di danau paniai ditebarkan oleh para missionaris barat tahun
1960-an, tentara asing pada perang dunia ke II, TNI/Polri (Sejak paniai
ditetapkan sebagai daerah DOM) dan para guru orang pendatang, masyarakat umum
dan juga Sub Dinas Perikanan sering melakukannya, dipastikan hal itu dilakukan
karena tinggkat pengetahuan yang rendah akan bahaya ikan introduksi terhadap
habitat dan biota endemic danau paniai. Mereka telah memasukkan ikan nila
(oreochromis niloticus), ikan mujair (oreochromis mossambicus), ikan mas/ikan
karper (cyprinus carpio) dan ikan sembilan hitam, ikan gurami(Osphronemus
gouramy ),
ikan belut ( synbranchus), dan ikan pelangi ( rainbow/melanotaenia ayamaruensis
). Ikan-ikan introduksi yang dimasukkan tersebut, tak terjamin kesterilannya
serta tak rama terhadap ekosistem asli danau paniai, ikan introdusi juga telah
mengancam populasi ikan endemic dan merusak habitatnya. Hal itu merupakan
penyebab terdegradasinya keseimbangan ekologi danau paniai.
- Resolusi
Rehabilitasi Ekosistem Danau Paniai
Menyadari bahwa senyawa fosfat, erosi/sedimentasi dan ikan introduksi,
merupakan penyebab utama kian terdegradasinya keseimbangan ekosistem danau
paniai sertai didukung oleh Keppres No. 48/1991 tentang pengesahan konvensi
lahan basah (Ramsar) telah memberikan ketentuan-ketentuan tentang konservasi
lahan basah (yang didalamnya berarti mencakup pula danau). Keppres tersebut
mengatur pula penentuan situs lahan basah yang mempunyai kepentingan
internasional. Institusi-institusi yang terkait dengan Keppres tersebut adalah
Departemen kehutanan dan Kementrian Lingkungan Hidup.
Pengurangan tingkat penyusutan lahan basah hingga tingkat nol adalah salah satu
sasaran dalam strategi pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia (IBSAP),
maka perlu ada solusi yang bijak untuk menangani permasalahan danau paniai. Ada
beberapa langkah yang dapat digunakan untuk mereabilitasi ekosistem danau
paniai, diantaranya :
Pemerintah Paniai harus sedini mungkin membangun Balai Konservasi Perlindungan,
Pengawasan dan Pengawetan Alam Danau Paniai. Nantinya balai ini berfungsi
sebagai pusat konservasi dan reabilitasi kerusakan lingkungan danau paniai dan
pengawetannya, dengan tupoksi kerja, 1) Mengadakan kegiatan reboisasi hutan
yang rusak, 2) Membangun daerah konservasi khusus bagi biota endemic, 3)
Memanen alga atau mengurangi alga yang tumbuh subur di permukaan air ataupun
mengontrol pertumbuhan tumbuhan air (gulma) di danau, 4) Mengurangi nutrient
dan sedimen berlebih yang masuk ke dalam danau dan membatasi penggunaan fosfat
bagi masyarakat yang bermukim di pinggiran danau atau di pingiran sungai yang
bermuara ke danau paniai, dengan mengadakan sosialisasi serta penggontrolan
yang ketat, 4) Pemerintah segera merelokasi pasar enarotali dan pemukiman
masyarakat pedagang, karena disinyalir daerah itulah sebagai pemicuh utama
terjadinya pencemaran air danau.
Untuk mendukung tercapainya semua itu, pemerintah harus dapat menerbitkan suatu
peraturan pemerintah atau suatu undang-undang (Perda) untuk melindungi
ekosistem air dari cultural eutrofikasi, erosisi/sedimentasi dan introduksi
ikan dari luar paniai, yang nantinya dijalankan oleh Balai Konservasi,
Perlindungan dan Pengawetan Alam Danau Paniai. Semuanya ini bila dilakukan
dengan kesadaran yang tinggi dari semua lapisan masyarakat paniai dan semua
stackholder, maka bukan suatu hal yang mustahil, danau paniai akan tercatat
sebagai salah satu danau terindah di dunia, sebagai prasarat untuk masuk
kedalam jajaran danau prioritas Internasional.