AKHIRNYA PROGRAM
( UP4B ) TELAH BERHASIL TERBOS MASUK KE BUMI CENDRAWASIH.
Berkali kali mayoritas papua
berdemontrasi menolak penawaran pemerintah pusat pasca dianggap otonomi khusus
dianggap gagal. Sebab mereka menilai bahwa sebuah unit percepatan pembangaun
papua dan papua barat adalah sebuah kubuh yang memusnakan semua potensi alam
maupun manusia di papua. para meter akan hal itu diklaim sebab perjalanan
otonomi khusus selama sepuluh tahun berjalan di papua tidak mengaplikasikan
sesuai esensi otonomi khusus yakni sasaranya kepada beberapa sector yang
keterbelakangan. Namum yang melonjak adalah pemusnahan tokoh tokoh intelektual
papua, masyarakat sipil papua yang tidak berdosa serta banyak perusahan ilegal
yang masuk ke papua merusak dan mengadopsi potensi unggul yang mengdiami di
bumi cendrawasih.
Pemusnahan manusia papua semakin
hari semakin tinggi nilai kehilangan/ kematian dari pada standarisasi nilai
kelahiran papua khususnya penduduk mayoritas papua secara kolektif. Kematian
manusia papua di mata publik dunia internasional semakin menyala dan di samping
itu masalah status politik kian tinggi di publik internasional.dalam hal ini
pemerintah pusat semakin takut jika papua lepas dari kesatuan Indonesia.
Maka untuk meyakinkan publik
internasional persepsi pemerintah pusat telah menerbitkan sebuah kebijakan
terhadap program khusus untuk papua di samping otonomi khusus merupakan unit
percepatan pembanguan papua dan papua barat dengan peraturan presiden
nomor 65 tahun 2011 yang dikepalai oleh
Letnan Purnawirawan Bambang Darmono dan di ketuai oleh wapres Budiono.
Program pemerintah pusat yang
dikenal dengan unit percepatan pembanguan papua dan papua barat dengan masa
waktunya sampai 2014 Telah terobos masuk ke papua di manokwari pada tanggal 16
desember tahun 2011, dan di Biak Numfor pada minggu 04 maret tahun 2012 telah digelar sosialisasi
dan dialog ketua UP4B dengan masyarakat biak numfor.
Kehadiran
Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat tidak melecehkan kemampuan
Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat dalam membangun wilayahnya. Kehadiran
unit ini justru membantu optimalisasi koordinasi dan sinergi antarpemangku
kepentingan dan kebijakan untuk menyejahterakan rakyat Papua. Penegasan itu disampaikan Ketua
Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) Bambang Darmono dalam
sosialisasi Peraturan Presiden P4B di depan jajaran Pemerintah Provinsi Papua
dan Papua Barat, serta pemerintah kabupaten di dua provinsi itu, Rabu (11/1),
di Sasana Krida, Papua. Bambang Darmono mengatakan, misi utama UP2B
ialah mendukung koordinasi, sinkronisasi dalam perencanaan, persiapan,
pelaksanaan, hingga pengendalian dan evaluasi percepatan pembangunan di Papua.
Bantu percepatan
UP4B juga membantu presiden memastikan percepatan pembangunan terwujud. ”UP4B tidak mengambil peran, tugas, dan wewenang pemerintah daerah,” ujarnya. Bahkan, kata Bambang, UP4B berupaya mendorong keterlibatan lebih besar dari orang asli Papua dalam kepemimpinan lokal dan nasional. Penegasan ini menanggapi pernyataan beberapa peserta sosialisasi menyangkut keberadaan UP4B.
Persepsi penduduk mayoritas papua terhadap UP4B
Semua
paparan dari ketau UP4B jika ditelaah
sangat bertolak belakangan dengan ideology radikal rakyat akar rumput papua
sebab dikalim otonomi khusus berjalan 10( sepuluh) tahun saja gagal apalagi
program semata dalam 4 (empat ) tahun.
Sangat sosok tahu bambang darmono yang mana dulu berhasil mendamaikan dan
membubarkan GAM ( gerakan aceh merdeka) oleh bambang dengan pendekatan
kesejahteraan sehingga berhasil. Sehingga kini ketua UP4B mencoba menerobos
masuk ke papua menjwab permintaan masalah papua dengan kesejahteraan jelas
bertolak belakangan persepsi dengan rakyat papua yang sedang hidup merana di
bumi cendrawasih.
Perlu
diketahui bahwa yang menerima kedatangan UP4B di papua di manokwari dan biak
numfor adalah di kalangan elit politik dan birokrat papua sebagai jaringan
pemerintah pusat saja bukan dari masyarakat mayoritas papua secara kolektif.
Bahan pikir
Maka
untuk mengatasi masalah papua diklaim kepada pemerintah papua baik elit politik
maupun birokrat dimungkinkan mengadopsi harapan kerinduan rakyat papua. jangan
hanya karena kepentingan pribadi dan mencari nama baik di muka pemerintah pusat
saja menginjak aspirasi rakyat papua. apakah rakyat papua sementara ini sedang
merindukan kesejahteraan atau kebebasaan total dari imperialisme dan kolonialisme
yang sedang berlansung sekarang.perlu
diketahui juga bahwa dalam asas desentralisasi telah lahir otonomi khusus yang
mana membangun sesuai prakarsanya dengan memperhatikan aspirasi dari rakyat
akar rumput selama dua puluh lima tahun. ( 25 ). Apakah penyelenggaraan
pemerintah dalam kerangka kebebasan sudah terdobrak isolasi isolasi di bumi
cendrwasih, tentu tidak . maka coba mengaca dengan diterbitkan perpres nomor 65
tahun 2011 dalam itu termuat masa UP4B adalah empat tahun. Dalam empat tersebut
bisahkah terdobrak segala isolasi – isolasi yang tersendat sedangkan dalam
sepuluh tahun saja gagal.
Kembali
lagi ke otonomi khusus adalah yang di anggap sebuah momentum yang strategis
sebab tuan di atas negerinya sendiri adalah orang asli papua perdasus menjamin.
Dalam itu juga percaya ful bahwa kondisi demografis terhadap nilai – nilai
ekonomis, budaya, sosial, agama, dan kondisi geografis pesis para Tuan- tuan
dan atau dalam hal ini semua kepala
daerah adalah putra asli daerah mengetahui maka mereka bisah membangun sesuai
karakteristik dan kondisi daerahnya yang dimilikinya.
Disini
diklaim kepada ketua UP4B berapa tahun lamanya berbaur atau berdomisili di
papua sehingga sosok tau membangun
dengan dengan tidak mengetahui karakteristik papua yang benar berdasarkan
kondisi rill sedangkan Tuan- Tuan ( kepala daerah) sebagai orang asli papua
saja membangunnya gagal.
Oleh
karena itu kepada pemerintah pusat juga jangan melakuakn pendekatan dengan
segelintir actor saja untuk menjawab masalah mendasar papua tetapi dibutuhkan
melihat apa permintaan masyarakat mayoritas papua sehingga penduduk mayoritas
papua berdikari ,berdaya saing, berdaya guna, sejahtera dan bahagia di atas
kekayaan sendiri.
Oleh ; Frans
Mote.

Tidak ada komentar:
Write komentarterima kasih atas kunjungan anda