Recent Posts

Minggu, 24 April 2016

KEMBALILAH KEPADA-KU, SEBAB AKU TELAH MENEBUS ENGKAU!

Allah dalam diri-Nya sendiri sempurna dan bahagia tanpa batas. Berdasarkan keputusan-Nya yang dibuat karena kebaikan semata-mata, Ia telah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang bahagia. Karena itu, pada setiap saat dan di mana pun juga Ia dekat dengan manusia. Ia memanggil manusia dan menolongnya untuk mencari-Nya, untuk mengenal-Nya, dan untuk mencintai-Nya dengan segala kekuatannya, Ia memanggil semua manusia yang sudah tercerai-berai satu dari yang lain oleh dosa ke dalam keluarga-Nya, Gereja melalui jalan pertobatan. Ia melakukan seluruh usaha itu dengan perantaraan Putera-Nya, yang telah Ia utus sebagai Penebus dan Juru Selamat, ketika genap waktunya. Dalam Dia dan oleh Dia Allah memanggil manusia supaya menjadi anak-anak-Nya, dan dengan demikian mewarisi kehidupan-Nya yang bahagia.
Allah yang Mahabaik ingin manusia hidup berbahagia dalam hubungan cinta kasih dengan-Nya, untuk itu Ia memberikan manusia kehendak bebas, agar dapat mengasihi Allah dalam kebebasan. Dalam kenyataannya manusia telah menyalahgunakan kebebasan itu, merusak rusak kodratnya sebagai gambaran Allah dengan melakukan dosa, yang dapat membawa kepada kebinasaan. Puji Tuhan, dalam kebaikan-Nya yang tak terbatas, Allah telah mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan, memulihkan kembali manusia yang telah terpisah dengan Allah. Tetapi Allah menuntut kerja sama dari manusia, seperti yang dikatakan St. Agustinus: ”Allah telah menciptakan kita tanpa kita, tetapi Ia tidak mau menyelamatkan kita tanpa kita”, Allah menghendaki manusia untuk turut berperan aktif di dalam karya-Nya yang menyelamatkan diri manusia itu sendiri dan semua manusia di dunia ini melalui pertobatan. Yesus telah datang memberikan Kabar Gembira, bahwa Allah berbelas kasihan kepada orang berdosa, Yesus telah mengampuni semua dosa-dosa manusia dan tidak mengingatnya lagi, Ia memanggil manusia yang telah ditebus-Nya, untuk bertobat. "Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau!” (Yes 44:22)

Pertobatan Sebagai Rahmat Allah
Apa yang dimaksudkan dengan pertobatan menurut paham Injil, dapat kita pahami dalam perumpamaan tentang dua orang yang berhutang (Luk 7:41-43). Kedua orang berhutang itu melambangkan orang yang berdosa, karena hutangnya begitu saja dihapuskan tanpa perlu mengembalikan maka mereka begitu berterimakasih dengan mengasihi tuannya, yaitu Allah. Jadi orang lebih dahulu mengalami pengampunan dari Allah baru kemudian mengasihi Dia. Dengan kata lain pertobatan merupakan suatu tanggapan dari kebaikan hati Allah yang dialami orang berdosa. Manusia lebih dahulu mengalami Allah, kemudian barulah dia bertobat, meninggalkan dosa-dosanya dan berbalik kepada Allah. Jadi pertobatan yang diberitakan Yesus tidak merupakan syarat untuk mendapatkan keselamatan (Kerajaan Allah), melainkan keselamatan telah dianugerahkan, rahmat Allah telah dan akan terus dicurahkan kepada manusia sehingga menghasilkan pertobatan. Allah mendekati manusia, merangkul dan mengangkatnya menjadi anak-anak-Nya, menjadi ahli waris Kerajaan-Nya. Lalu manusia yang sebelumnya adalah tawanan dan budak dosa bertobat, mengubah jalan hidupnya, berbalik kepada Allah yang baik dan menyerahkan diri kepada kehendak-Nya.
Di dalam Injil digambarkan Yesus senang bergaul dengan orang berdosa, sebab Ia datang untuk orang berdosa, ia dekat dengan para pemungut cukai, pelacur, mereka yang dianggap berdosa, sebagai sampah masyarakat dan kaum kafir menurut pandangan pada zaman itu. Tidak dikatakan bahwa mereka lebih dahulu bertobat sebelum bertemu Yesus, tetapi Yesus lebih dahulu berbuat baik kepada mereka lebih dahulu. Contoh: seorang wanita yang kedapatan berzinah (Luk 8:2-11), wanita samaria (Yoh 4:1-26), Zakheus kepala pemungut cukai (Luk 9:1-10), salah seorang penjahat yang Disalibkan bersama Yesus (Luk 23:40-43).

Yesus Sang Penyelamat
Allah Sang Penyelamat menunjukkan kasih-Nya kepada manusia, Ia telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Rm 5:8), Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih (Kol 1:13).
Ia telah memberikan diri-Nya sendiri sebagai korban penebus dosa-dosa semua manusia, seperti yang dikatakan St. Paulus : “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,” (1Kor 15:3). Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Dan tidak seorangpun dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa pertolongan Allah (bdk Mzm 49:8), “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah “(Rm 3:23) “Sebab upah dosa ialah maut” (Rm 6:23), jadi akibat dari perbuatan dosa manusia adalah kematian dan penderitaan kekal tetapi Allah telah menebus kita dari hamba dosa yang seharusnya menerima keterpisahan dengan Allah sebagai ganjarannya, Ia telah datang ke dunia memilih untuk menjadi manusia, mengalami segala penderitaan dan kelemahan manusiawi. Sama seperti manusia lainnya, Yesus memilih mati, wafat secara tidak terhormat dalam kehinaan, turun ke dunia orang mati dan menjadi tak berdaya sama sekali. Dengan jalan itu Allah berkenan membebaskan manusia dari semua nasib malangnya, dari kutuk, dari dosa dan kematian karena dosa. Ia memikul dosa dan kutuk yang seharusnya ditanggung manusia, Ia memilih menderita demi menyelamatkan manusia, “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes 53:5). Ia memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang agar manusia terbebas dari siksaan abadi. Dan Ia hadir sebagai pengantara kepada Bapa, kepada keselamatan kekal “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25)

Sabda Allah Memanggil Manusia Untuk Bertobat

Bertobat berarti terbuka terhadap tawaran kasih Allah dan menerima Dia sebagai pusat di dalam kehidupan ini. Maka pertobatan harus diwujudkan dengan meninggalkan masa lalu yang penuh dosa, berbalik dari cara hidup yang lama dan menempuh hidup yang baru. Sesungguhnya, pertobatan merupakan jawaban dari panggilan Tuhan Yesus yang pertama untuk manusia dalam karya perdana-Nya di daerah Galilea. Yesus menyerukan pertobatan, yang merupakan inti dari pewartaan-Nya di samping tentang Kerajaan Allah: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 4:17, bdk. Mrk 1:15), dan untuk inilah Yesus datang ke dunia, Ia hadir bukan untuk menjadi hakim yang kejam tetapi sebagai juru selamat: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:32). Ia tidak menghendaki kematian orang berdosa (bdk. Yeh 33:11), tetapi Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan (bdk. 1Tim 2:3-4) Ia lebih rindu Manusia mengalami pertobatan dan diselamatkan daripada manusia itu sendiri merindukan keselamatan. Dalam pewartaan-Nya Yesus menyatakan betapa penting dan sungguh mendesak untuk kebaikan manusia sendiri, suatu pertobatan untuk menerima kehidupan kekal dan syarat masuk dalam Kerajaan Sorga (Mat 11;20-21 ; 18:3 ; 23:15), sebelum kenaikan-Nya ke Sorga, Jadi untuk masuk Surga orang harus bertobat. Ia pun memberi tugas kepada para murid untuk melanjutkan karya penyelamatan ini: “...berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa,...” (Luk 24:47). Pertobatan juga merupakan pesan pokok para nabi Perjanjian Lama (Hos 14:2, Yes 1:27, Yeh 18:30,Yl 2:12-14, Mal 3:7), Yohanes pembaptis (Mat 3:2 ; 3:8) dan orang Kristen Perjanjian Baru serta Gereja-Nya (Kis 2:38 ; 8:22 ; 11:18 ; 2Ptr 3:9).
Menjadi orang Kristen adalah mengikuti Kristus karena mengasihi-Nya, tetapi karena kita lebih dahulu dikasihi-Nya (1Yoh 4:10). Tuhan menghendaki kita untuk menjawab panggilan-Nya yaitu dengan mengasihi Dia, seperti yang dilakukan-Nya pada Simon Petrus, Tuhan pun bertanya kepada kita; ”...apakah engkau mengasihi Aku?"..."Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau...” “Ikutilah Aku” (bdk. Yoh 21:15.19). Mengikuti Yesus mengandung keputusan untuk menyerahkan diri sepenuhnya untuk dibimbing, diubah, dibentuk menuju kepada kekudusan. Tuhan akan selalu memanggil manusia yang lemah, penuh kekurangan dan dosa untuk menggapai uluran tangan-Nya, mengalami kasih-Nya yang tak terbatas dan kemudian mengubah mereka, menjadi saluran kasih kepada sesamanya.

Pertobatan yang sesuai dengan kehendak Allah

Pertobatan yang merupakan rahmat Allah yang cuma-cuma dapat diumpamakan seperti benih yang ditaburkan di tanah (Mrk 4:1-20), diharapkan Allah dapat tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah. Buah pertobatan ini juga merupakan tuntutan (Mat 3:8), dan harus buah yang baik (Mat 7:19) bila tidak maka pohonnya pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Dalam kebaikan-Nya yang tanpa batas Allah telah memelihara pohon ara yang tidak berbuah, setelah pohon itu menikmati segala kebaikan-Nya, diharapkan ia akan berbuah, namun jika tidak menghasilkan buah, pada saatnya pasti akan ditebang juga (bdk. Luk 13:6-9). Dalam surat kepada orang Ibrani (Ibr 6:4-8), dikatakan bahwa mereka yang telah mengalami berkat pertobatan dari Allah tetapi mereka tidak menghasilkan buah pertobatan, lebih lagi murtad, maka orang itu sudah dekat pada kutuk yang berakhir pada pembakaran dan ia tidak berguna sama sekali. Orang yang telah diselamatkan dan dijadikan ahli waris Kerajaan Allah, namun tidak berlaku sebagai anak Allah akan dibuang dan jatuh binasa pada waktunya. Jadi manusia bertanggung jawab atas rahmat Allah ini, bekerja sama dengan rahmat Allah sehingga menghasilkan buah berlimpah dengan terus-menerus harus memelihara dan mengembangkannya melalui pikiran, perbuatan dan perkataan sehari-hari. Proses pertobatan ini tidak terjadi sekali saja, melainkan terus-menerus selam hidup di dunia, karena dengan kodratnya yang lemah manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa (concupiscentia), sehingga tidak satu orang pun di dunia ini yang tidak pernah berbuat dosa, bahkan orang paling saleh pun pernah berbuat dosa, ini dikatakan dalam kitab Pengkotbah : “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” (Pkh 7:20), dalam kitab Amsal: orang benar pun jatuh tujuh kali sehari (bdk. Ams 24:16). Juga dikatakan oleh St. Yohanes dalam suratnya: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita“ (1Yoh 1:8). Maka semua orang perlu sekali untuk mempunyai sikap pertobatan yang benar yang sesuai dengan kehendak Allah untuk menghasilkan buah yang melimpah.
Allah menghendaki manusia mengalami metanoia (bahasa Yunani: perubahan hati), sebuah pertobatan yang membutuhkan perubahan hati yang total. Pengampunan dosa yang total juga membutuhkan suatu pertobatan yang total, ini dapat kita lihat dalam kitab nabi Yehezkiel: “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti mati! -- tetapi ia bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran, orang jahat itu mengembalikan gadaian orang, ia membayar ganti rampasannya, menuruti peraturan-peraturan yang memberi hidup, sehingga tidak berbuat curang lagi, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Semua dosa yang diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi; ia sudah melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia pasti hidup" (Yeh 33:14-16). Perubahan hati yang sejati bukan hanya menghindari dan tidak melakukan dosa tetapi berbalik arah kepada Allah, bukan hanya memilih antara berbuat dosa dan tidak berbuat dosa tetapi mencari Allah di atas segala-galanya dengan melakukan kebajikan-kebajikan yang merupakan buah dari pertobatan yang otentik.
Satu halangan yang besar untuk bertobat adalah kekurangan kehendak yang kuat untuk berubah, bila manusia terlalu terfokus pada dosa-dosanya, ”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23), sehingga tidak ada seorangpun dapat berharap berada tanpa dosa sepanjang hidupnya, lalu bagaimana seseorang dapat memiliki pertobatan yang sejati atau otentik? Jawaban yang tepat adalah tentunya adalah selalu menyadari dalam terang akal budi, kelemahan-kelemahan manusiawi dan kemungkinan-kemungkinan mengalami kejatuhan dalam dosa. Kemudian harus memiliki suatu kehendak yang kuat untuk tidak berbuat dosa lagi, meskipun melalui akal budi kita tahu bahwa kita akan mengalami kejatuhan yang tidak diinginkan. Dalam doa tobat kebenaran ini dinyatakan: ”…Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi…“ Inilah kehendak yang kuat untuk berubah yang menggambarkan suatu pertobatan otentik yang benar dan merupakan kunci yang membuka aliran kasih Allah yang melimpah. Sekaligus menyadari ketidakberdayaannya, ketidakmampuannya, kedosaannya di hadapan Allah dan hanya mengandalkan rahmat dan ketergantungannya kepada kebaikan Allah. Karena pertobatan adalah merupakan rahmat Allah semata-mata (bdk. Kis 5:31), suatu karya keselamatan Allah yang diberikan dengan cuma-cuma, yang perlu ditanggapi oleh manusia dengan usaha-usaha mereka, bila tidak keselamatan ini akan lenyap. Dalam Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa pertobatan adalah satu penataan baru seluruh kehidupan, satu langkah balik, pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, pelepasan dosa, berpaling dari yang jahat, yang dihubungkan dengan keengganan terhadap perbuatan jahat yang telah kita lakukan. Sekaligus ia membawa kerinduan dan keputusan untuk mengubah hidup, serta harapan atas belas kasihan Ilahi dan bantuan rahmat-Nya. Pertobatan jiwa ini diiringi dengan kesedihan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan, yang bapa-bapa Gereja namakan animi cruciatus (kesedihan jiwa), compunctio cordis (penyesalan hati) (Katekismus No. 1431).

Tidak ada komentar:
Write komentar

terima kasih atas kunjungan anda

Recommended Posts × +