Recent Posts

Kamis, 29 Oktober 2015

TARI TRADISIONAL (EMAIDA)

TARI TRADISIONAL (EMAIDA)

NARASI
Salah satu cara minang seorang gadis Mee adalah pada kesempatan berdansa di rumah dansa yang disebut sebagai “emaida”.
Masyarakat sebelum ke tempat dansa berkumpul di satu tempat setelah orang terakhir tiba lalu mereka “yuu” bertanda siap jalan. Setelah “yuu” mereka pergi ke emaida.
Setelah mereka sampai di halaman Emaida mereka menyanyikan salah satu lagu sebagai pengantar masuk ke dalam rumah dansa. Beberapa laki-laki yang mengangkat lalu dansa. Ada bermacam-macam lagu dansa, dari beragaman lagu itu salah satunya adalah lagu yang berbunyi meminang seorang gadis. Sementara lagu berlangsung seorang pemuda memasukkan tanda mata (pakooba) di nokennya seorang pemudi, yang ia cintai.
Kemudian si pemuda dan pemudi keluar diam-diam ke rumah laki-laki. Setelah diketahui oleh orang mengurusi maskawin. Pihak perempuan meminta maskawin dengan harga yang mahal, sebab gadis itu adalah gadis yang bisa berwibawa dan nama dirinya bagus “Deiyai Yoogo”. Yang arti Gadis Deiyai yang bermagota.
Ketentuan harga maskawin diterima oleh pihak laki-laki disepakati waktu pelaksanaan proses pernikahan adat.
Pernikahan adat dilakukan pertama oleh pihak laki-laki, yakni pihak laki-laki mengundang pihak perempuan untuk mengambil harta maskawinnya. Harta benda berupa kulit bia/kerang diletakkan di atas koba-koba lantas diperiksa oleh pihak perempuan jika disesuai permintaan maka pihak perempuan berhak memintanya. Setelah dilengkapi harta bendanya pihak perempuan mengambil dan membambaginya. 
Setelah harta maskawin dibagikan pihak perempuan ke rumah anak gadis untuk memberikan nasehat kepada keluarga baru dan mendengarkan mimpi haid pertamanya. Nasehat berupa cara hidup keluarga yang baik. Pun sebaliknya dari pihak laki-laki juga memberikan nasehat kepada keluarga baru.
Kemudian dilangsungkan pengungkapan mimpi yang dilihat pada saat haid pertama oleh si gadis yang baru nikah.  Namun sebelum ia membagi cerita didahului oleh mama mantunya (ibu dari laki-laki) kemudian diceritakan oleh si gadis lantas oleh mamanya (ibu dari si gadis).  Kemudian diteruskan dengan cerita pengalaman hidup dari keluarga yang lama. Mereka saling membagi pengalaman hidup baik suka maupun pengalaman hidup duka-malang sampai pagi.

POLA & MATERI
Dalam kebiasaan suku mee tamu baik perorang maupun komunal sangatlah penting. Salah satu nilai yang terjadi ketika manusia mee mengadakan rumah dansa, di situlah tuan rumah siap menerima para tamu dari berbagai tempat dengan sikap harmonis. Bukan hanya itu saja yang terjadi tetapi nilai-nilai luhur lainnya pun ikut dibangun bersama baik oleh pihak tuan rumah maupun oleh para tamu, diantaranya saling menerima, melayani, mendengar, membangun komunikasi, meningkatkan pendapatan melalui bisnis, dan lain sebagainya. Namun pada kesempatan ini kami hanya menampilkan cinta yang terjadi di rumah dansa dan pada akhirnya masalah tersebut bisa diselesaikannya dengan baik atas dasar nilai-nilai luhur tersebut di atas. Demikianlah pola ceritanya :

Para tamu mengucapkan rasa bahagia dengan “Yuu” bersama di tempatnya.

1). Para tamu sedang berarak menuju ke rumah dansa. Lantas memasuki di dalam rumah dansa sambil bernyanyi/sambil menari. Kemudian mereka mengungkapkan beberapa ayat lagu tarinya sambil menari.

2). Para tamu menari di tengah sambil mengungkapkan isi hatinya melalui lagu (ugaa) dan para tuan rumah khusunya perempuan dan beberapa perempuan tamu menari di pinggir sambil menerangi rumah dansa dengan lampu dari bambu. Pada kesempatan inilah awal mulainya percintaan. Antara salah satu gadis tuan rumah dengan salah satu pemuda dari tamu (bisa sebaliknya). Caranya adalah si pemuda memasukkan tanda mata (kenang-kenangan) di dalam noken si gadis yang ia cintai.

3). Pada pagi hari mereka baik pihak perempuan maupun pihak laki-laki menyepakati harga harta maskawin dan menyelesaikannya. Kelompok A merupakan pihak laki-laki dan sebaliknya kelompok B adalah pihak perempuan. Kemudian setelah menyepakati harga harta maskawinya mereka melangsungkan proses penyelesaian dan penyerahan maskawinya dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Lantas pada malam harinya mereka teruskan dengan acara pengungkapan mimpi pertama (ketika Haid pertama oleh si gadis). Alasannya adalah bagi suku mee mimpi pertama merupakan pedoman hidup bagi dirinya sendiri dan bagi keluarganya. Maka dalam pengungkapan harus hati-hati dan terungkap semuanya.

4). Perjumpaan para tamu diakhiri dengan penyelesaian maskawin. Lantas mereka bersama mengungkapkan rasa syukurnya dengan “yuu” bersama sebagai satu keluarga. Maka pada akhirnya mengangkat sebuah lagu sebagai penunutup dari semua rangkaian acara ini.

Demikian tari tradisional yang berlangsung di rumah dansa. Karya ini dipersembahkan oleh sanggar Deiyai bekerjasama dengan pemerintah kabupaten Deiyai (Dinas Kebudayaan & Pariwisata) dan dengan Dewan Kesenian Deiyai pada pesta budaya ke XIII Papua di Jayapura.





















ketua Dewan Kesenian                                  Ketua Sanggar Deiyai
                                                                        Hormat Kami

        Andreas Mote, S.E                                          Willem Pekei, S.E



CERITA RAKYAT TRADISIONAL
(Ritus Perdamaian)

Narasi
Ritus ini diawali dengan lagu pembukaan berupa (tuupe). Setelah para peserta tiba di tempat pentas langsung membentuk tiga kelompok, masing-masing terdiri dari kel. i. adalah penunggu telagaselanjutnya disebut madou, posisi di depan; kel.ii. adalah pengusir penunggu, posisi di sebelah kiri dan kanan tengah; kel.iii adalah dukun atau pendamai dan keluarga, posisi di belakang penunggu tersebut, tepatnya di sebelah kiri dan kanan. Keduaa keluarga masing-masing adalah keluarga Yigii & keluarga Gooko.
Para pengusir madou, seorang menggunakan tombak kayu dari Yigii (arti kata Yigii : menggerakan sesuatu untuk mengusirnya dari tempat tinggal). Juga sebaliknya, pengusir yang kedua juga menggunakan tombak kayu dari gooko (arti kata gooko : menggerakan sesuatu untuk mengusirnya dari tempat tinggal) secara khusus kedua jenis kayu ini digunakan untuk mengusir madou dari tempat tinggalnya. Mereka bergantian menggerakkan madou sambil bernyanyi (lagu pengusiran) agar ia bergegas keluar dari tempat tinggalnya.
Madou setelah tiba di tempat yang dituju oleh pengusir, pengusir menyatukan kedua kayu yang telah dipakai dalam prosesi pengusiran, agar ia tidak kembali lagi ke tempat semula. Kemudian para pengusir menyepakati mengadakan ritus juga untuk memperkokoh penyatuhan tombak tersebut. Maka mereka dua sangat berhati-hati menyepakati memanggil pembuat ritus.
Setelah sepakat salah seorang pengusir madou segera ke kediaman pembuat ritus untuk memanggilnya. Lantas ia menyampaikan tujuan kedatangannya lalu si pembuat ritus pun ada tanda sebelumnya maka si pembuat ritus menyampaikan bahan-bahan yang perlu disiapkan sebagai bahan doa. Bahan-bahan doa yang perlu disiapkan antara lain adalah : babi satu ekor, daun pohon (mai), alang-alang seperlunya, tali, dan lain sebagainya.
Si pengusir madou dan si pembuat ritus setelah tiba di tempat pelaksanaan ritus, si pembuat ritus langsung membuat dengan berkata : “untuk selanjutnya anda tidak layak dan berhak mengganggu manusia dari genarasi ke generasi serta segala ciptaan Allah lainnya. Anda kini telah memiliki tempat yang baik dan aman maka jangan pernah kembali lagi ke tempat kediaman manusia, tempat bertani, nelayan, beternak, dan lain sebagainya”. Setelah ia mengungkapkan kata-kata di atas ini ia langsung membunuh babi sebagai korban penebusan. Babi yang telah dikorbankan itu dibelah dua, bagian lain untuk madou dan bagaian yang lainnya untuk manusia. Kemudian manusia yang memakan babi itu dan keluarga yang lainnya menjalani pantang dan puasa selama tujuh hari-tujuh malam.
Pada akhirnya, manusia yang hidup di generasi sekarang mengungkapkan ucapan syukur dan terimaksih pertama dan terutama kepada Allah, kedua kepada para pengusir madou dan pembuat ritus pada saat itu dengan berkata “ jika tete-nenekmoyang tidak melakukannya perdamaian dengan madou, pasti kami ini tidak ada tetapi Allah dan para leluhur membuatnya maka kami dan generasi berikutnya aman dan damai. Maka  kami kini karena aman di tempat ini sehingga segala aktifitas telah, sedang dan akan dilaksanakannya. Bahkan tempat ini juga merupakan poros kedudukan kabupaten Deiyai sehingga roda hidup kami pun aman dan damai (baik roda pemerintahan, masyarakat dan alam semesta Deiyai).

Pola & Materi
1). Para peserta memasuki arena pentas dan mengadakan penghormatan kedapa semua hadirin di sekitar pentas.

.

2). Para pengusir penunggu telaga mengusir dengan menggunakan kayu yigii dan gooko sambil lagu pengusiran.



3). Para pengusir madou menyatuhkan kedua tongkatnya dan memalang antara madou dengan manusia. Lalu mereka dua mulai mempersiapakan segala persiapan untuk mengadakan ritus perdamaian antara madou dengan manusia. Seusai persiapan, mereka mengadakan proses rekonsiliasi agar tidak saling mengganggu dan tidak menjadi mangsa terhadap yang lainnya.
Kemudian pendamai itu dengan tegas menyampaikan sikap rekonsiliasi bagi keluarga yang mengadakan itu. Diantaranya, adalah berpantang dan puasa. Bahkan percaya bahwa madou  ini tidak akan kembali lagi untuk mengganggu manusia dan lainnya yang ada di alam ini.

4). Pada akhirnya manusia yang kini hanya mengucapkan syukur atas perjuangan yang diperjuangkan oleh tetek-nenek moyang  pada masa lalu. Sebab hasilnya diterima dan dirasakan oleh generasi kita sekarang. Setelah selesainya, mereka mengangkat sebuah lagu syukur. Atas selamat dari ancaman madou.

Demikian cerita tradisional yang berlangsung di rumah di alam bebas. Karya ini dipersembahkan oleh sanggar Deiyai bekerjasama dengan pemerintah kabupaten Deiyai (Dinas Kebudayaan & Pariwisata) dan dengan Dewan Kesenian Deiyai pada pesta budaya ke XIII Papua di Jayapura.






















ketua Dewan Kesenian                                  Ketua Sanggar Deiyai
                                                                        Hormat Kami

      Andreas Mote, S.E                                          Willem Pekei, S.E






MUSIK RAKYAT
(Deiyai Maki Iniya)

Tanah yang kita mendiami ini adalah tanah milik kita bersama. Kita beraktifitas dan hidup di sini & kini karena ada tanah. Maka tugas kita adalah membangun hubungan baik dengan tanah. Memelihara tanah kudus yang diberikan Cuma-Cuma kepada kita.
Tanah Deiyai juga adalah tanah milik kami yang kudus dan abadi. Oleh karena itu, kami hanya mampu mengungkapkan rasa syukur kepada Allah yang mengadakan tanah ini.
Kami datang ini juga dari tanah kami Deiyai untuk menjumpai saudara-saudari di sini dan kini, agar kita bersama mengucapkan rasa syukur kita kepada Yang Punya tanah kudus ini.
Demikianlah rasa syuku kami, atas perhatian dan kerja sama yang baik kami mengucapakan berlimpah terimakasih.

Pola

1). Peserta memasuki arena pentas mengadakan penghormatan kepada tim juri dan para penonton.

2). Para peserta mengungkapkan ungkapan bahagianya berupa lagu. Lagu ini diiringi lagu tradisional pula.

3). Pola ini adalah peserta bersatu hati dan pikiran menyampaikan salam. Lalu peserta kembali ke tempat semula sambil bernyanyi tuupee.

Demikian musik tradisional yang berlangsung di alam bebas. Karya ini dipersembahkan oleh sanggar Deiyai bekerjasama dengan pemerintah kabupaten Deiyai (Dinas Kebudayaan & Pariwisata) dan dengan Dewan Kesenian Deiyai pada pesta budaya ke XIII Papua di Jayapura.



























ketua Dewan Kesenian                                  Ketua Sanggar Deiyai
                                                                        Hormat Kami

        Andreas Mote, S.E                            Willem Pekei, S.E

Tidak ada komentar:
Write komentar

terima kasih atas kunjungan anda

Recommended Posts × +